Review Cermis Rons Imawan - Loteng

| 5 January 2017 | |
To be honest, ini baru kali kedua aku review-review e-book begini. Selain karena kurang pandai merangkai kata-kata, aku biasanya lebih ke "iyain ajalah" sama apa kata pengarangnya. Orang pengarang maunya begitu, kita bisa apa? Tapi kali ini aku pengen mengubah sudut pandang itu. Bahwa, hei, siapa juga yang mau mengubah jalannya cerita? Kata Babang Onyol kalo mau me-review kita cukup bilang dengan jujur apa yang kita rasain waktu kita baca cerita tersebut bukan? Hehe... :p

Dan inilah review-ku:

Oh wait. Pertama-tama aku mau kasih info tentang e-booknya terlebih dulu:

Judul : Loteng
Pengarang : Rons Imawan
Genre : Cermis

PS: Ini e-book kelima dari project cermis Onyol:


Cermis Loteng ini terbit kemarin (tanggal 5 Januari 2017), hari Kamis. Pas banget tuh buat uji nyali dibaca malem Jum'atnya. Tapi monmaap, aku orangnya penakut jadi baru baca pagi ini, di kantor, pas banyak orang. Hehe... 

Sinopsis :

Bagi Nana, seorang gadis cantik asal Bogor, ayahnya belum mati. Ia tinggal di loteng, bisa diajak bicara dan bercengkerama. Misi Nana: meyakinkan sang ibu untuk menerima ‘kehadiran’ ayahnya.
Bagi Meida, ibu dari Nana, suaminya sudah tiada. Ia tewas dengan meninggalkan kesalahan fatal yang sulit diampuni. Misi Meida: menyelamatkan Nana dari jerat pikirannya sendiri, dari ayah-khayalannya.
Hidup keduanya berubah pasca ditinggalkan Arman, suami Meida, yang juga ayah dari Nana hingga tertahan rohnya di loteng untuk sebuah alasan.
Rupanya, arwah penasaran itu menyimpan rahasia besar yang ia sembunyikan dari seluruh penghuni rumah.
Misinya: rahasia.

Copas dari sini. 

Perasaan setelah baca cerita ini?

1. Fiuh, untung aku ga bacanya tadi malem kan
2. Sialan, kena tipu lagi kan sama Onyol :( 

Beneran, sampai setengah halaman udah yakin banget kan kalo nanti akhirnya pasti dipulangin nih arwahnya ini. Hanya saja dengan cara yang aku sendiri ga bisa duga dan ga mau menduga-duga juga. Tapi nyatanya, aku sukses tertipu dan cuma bisa bilang sama diri sendiri "Tuh kan.. tuh kan. Udah dibilang jangan percaya dulu". Hebatlah Babang Onyol ini, ide ceritanya emang selalu keren, gilak, dan ga terduga endingnya. Laff binggow..

Dan juga, setengah jalan cerita pertama aku ngerasa kesel sama arwahnya Arman ini. Lah udah buat salah, mati, masih ganggu Nana dan Meida pula. Sama Nana juga, Papi kamu udah mati nak. Ikhlasin aja supaya tenang di alam sana. Lalu di setengah berikutnya ikut nyesek dan netesin air mata pas dua makhluk dari dua dunia yang berbeda saling dipertemukan untuk mengucap perpisahan. Ini sampe sekarang masih tercekat rasanya tenggorokan.

Tapi meskipun begitu ada beberapa kesalahan teknis yang sedikit mengganggu pas baca, yaitu ada beberapa paragraf di halaman 12 diulang lagi di halaman 13, ga sengaja ter-copy paste mungkin ya. Sedikit bikin bingung sih, aku kira ga sengaja kena scroll tapi ternyata emang diulang. Terus ada lagi di halaman 32, paragraf setelah "BRAK!" disitu ditulis jantung Nana mencelus. Mungkin maksudnya Meida ya bukan Nana? Itu aja sih kayaknya, salah ketik dan salah pemisahan kata sambung ada beberapa tapi buat aku selagi masih bisa dibaca dan dipahami maknanya itu bukan kesalahan berarti (lagipula aku bukan ahlinya di bidang itu).

In general, aku suka cermis ini. Dan buat Babang Onyol jangan berhenti berkarya, dan novel "The Man in The Red Uniform" ga dijadiin aja nih Bang? :D

My favorite quotes: "Tragedi terburuk dalam hidup bukanlah ketika kamu kehilangan orang yang dicintai, melainkan saat kamu kehilangan kebanggaan pada diri sendiri". 

No comments:

Post a Comment

Older Post

© Design 1/2 a px. · 2015 · Pattern Template by Simzu · © Content chaBAGUS